Tagar atau label “Azizah kantoi” kembali mencuri perhatian setelah sebuah unggahan di platform Threads memunculkan klaim terkait masa lalu aktivis Rohingya, Noor Azizah. Postingan itu menampilkan foto lama yang dikatakan berasal dari lingkungan permukiman di Sandakan, Sabah.

Unggahan yang diposting oleh akun @Queenbeezoorah disertai sindiran yang mempertanyakan narasi kesulitan hidup yang selama ini dikemukakan oleh Noor Azizah. Aksi unggah gambar semacam ini segera memicu perbincangan luas di kalangan pengguna media sosial.
Unggahan di Threads
Menurut konten yang beredar, foto yang diunggah digambarkan sebagai potret masa kecil atau masa tumbuh kembang Noor Azizah di sebuah kompleks perumahan bertingkat di Sandakan, Sabah. Di samping foto tersebut, pemilik akun menulis komentar mengejek, salah satunya dengan kalimat: “Ini gambar kamu di hutan konkrit”.
Walaupun foto itu disebut sebagai gambar lama, informasi rinci mengenai asal muasal foto, waktu pengambilan, atau konteks lengkapnya tidak disertakan dalam unggahan. Klaim yang muncul dalam posting itu menyorot perbedaan narasi yang diungkapkan pihak yang bersangkutan dan citra yang beredar di ranah publik melalui gambar tersebut.
Reaksi dan perbincangan publik
Unggahan itu memancing berbagai reaksi dari warganet, dengan fokus pada pertanyaan tentang verifikasi dan konteks. Sejumlah pengguna menyoroti bahwa foto lama sering dipakai untuk menyanggah atau memperlemah klaim pengalaman hidup seseorang, sementara lainnya menekankan perlunya konfirmasi faktual sebelum menyimpulkan sesuatu.
Dalam diskusi daring, isu yang muncul tidak hanya berkutat pada foto itu sendiri, tetapi juga pada cara narasi pribadi bisa berubah ketika dipertemukan dengan bukti visual yang belum jelas kebenarannya. Perdebatan seperti ini memperlihatkan bagaimana informasi di media sosial bisa memengaruhi persepsi publik terhadap tokoh atau aktivis.
Catatan tentang verifikasi dan konteks
Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya verifikasi atas bahan visual yang beredar di internet. Foto lama, tanpa keterangan waktu, lokasi, dan sumber yang jelas, berpotensi menimbulkan interpretasi berbeda dan bahkan salah paham. Bagi pembaca, sikap kritis terhadap unggahan semacam itu diperlukan sebelum menerima kesimpulan.
Sementara itu, bagi pihak yang menjadi subjek unggahan, munculnya foto dan klaim tanpa konteks dapat menimbulkan tekanan publik dan spekulasi. Diskursus publik yang sehat seharusnya mendorong klarifikasi dari semua pihak yang terlibat dan menuntut bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Peristiwa ini juga menegaskan peran pengguna media sosial dalam menyikapi konten sensitif: membagikan, mengomentari, atau menggunakannya untuk tujuan tertentu harus disertai kesadaran bahwa dampaknya bisa luas. Verifikasi fakta, etika berbagi, dan kehati-hatian dalam menilai konteks menjadi aspek penting yang terus relevan dalam ekosistem informasi digital.
Hingga kini, unggahan yang menyertai foto lama itu tetap menjadi bahan perbincangan di platform tertentu, sementara pertanyaan mengenai latar foto dan kebenaran klaim yang dilontarkan melalui komentar belum memperoleh kejelasan publik yang memadai.
